Sunday, July 22, 2012

ramadhan yang semakin kehilangan makna


Assalamualaikum,

Al-Qashash [28:60] 
Dan apa saja yang diberikan kepada kamu (kekayaan, jabatan, keturunan), maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?

Membaca terjemahan di atas  mengingatkan penulis akan bulan Ramadhan 2012 kali ini. Yang mana secara pribadi dirasakan semakin kehilangan makna ramadhan yang sesungguhnya.

Menurut sebuah tulisan blog :
RAMADHAN adalah sebuah kata yang terbentuk dari lima huruf, dan setiap hurufnya memiliki makna tertentu yaitu : Ra : rahmat (rahmat Allah), Mim : maghfirah (ampunan Allah), Dhod : Dhommanun li al jannah (jaminan untuk menggapai surga), Alif : Amaanun min an nar (terhindar dari neraka) Nun : Nurullahi al Azizi al Hakim al Ghofuuri ar Rahiim (cahaya dari Allah swt yang maha kuasa dan bijaksana, maha pengampun dan pengasih). Saat kita telaah makna yang terkandung dalam kata RAMADHAN tersebut kita akan semakin meyakini bahwa datangnya bulan RAMADHAN adalah membawa sebuah keberkahan dari Allah SWT untuk kita sebagai hamba-Nya. Hal ini sesuai sabda Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya yang artinya : dari Abi Hurairoh RA, bahwasanya nabi Muhammad SAW berkata saat Ramadhan telah tiba: telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, pada bulan tersebut engkau diwajibkan berpuasa dan dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka dan syaitan-syaihan di belenggu, dalam bulan tersebut ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa yang tidak mampu mendapatkan kebaikan bulan RAMADHAN tersebut maka haramlah baginya surga. Riwayat Ahmad, an Nasa’i, dan Baihaqi.


demikian sempalan dari tulisan sebuah blog.
Yang kalau penulis sederhanakan dengan mengambil sudut pandang umum menurut penulis sendiri, maka ramadhan itu :
Kaitan dengan Allah SWT, keren nya ketauhidan dari seorang hamba kepada penciptanya. Seperti juga puasa itu termasuk ke dalam salah satu rukun islam, yaitu nomor 4. Ramadhan yang merupakan bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, bulan istimewa, dimana kita sebagai hambanya dapat lebih mendekatkan diri dan meningkatkan kualitas keimanan kita dengan berbagai kegiatan keagamaan.
Lalu kaitan dengan sesama manusia, ramadhan yang didalamnya terdapat perintah untuk melaksanakan ibadah puasa bagi yang tidak mempunyai halangan berpuasa. Terkandung nilai-nilai moral, bahwa kita harus ikut merasakan bagaimana kondisi kaum fakir dan miskin yang kerap kali harus menahan lapar dan haus. Lalu diajarkan pula nilai kebersamaan dan toleransi, baik sesama umat islam / muslim maupun dengan umat agama lainnya. Kesederhanaan dalam berbuka dan berpakaian, saling sapa dan salam, dan apabila memang berhalangan dalam berpuasa, tidak menunjukannya di depan umum. Dsb.
Setidaknya hal-hal itulah yang dahulu diajarkan dan dialami oleh penulis. Akan tetapi seiring dengan waktu yang bergulir, ramadhan semakin kini semakin berubah pemaknaannya bagi kebanyakan kaum muslim.
Seperti juga di tulisan dalam sebuah blog :
“Menyoal Makna Ramadhan
di dalam blog tersebut diceritakan bahwa makna ramadhan terbagi menjadi 3 bagian :
“Ramadhan religius”, “Ramadhan ekonomi” dan yang terakhir “Ramadhan hiburan”.

Penulis setuju dengan apa yang disampaikan di dalam tulisan blog tersebut. Dan merasa miris karena dari pengamatan sehari-hari di bulan ramadhan kali ini, ramadhan ekonomi dan ramadhan hiburan yang lebih dominan dari pada ramadhan religious.
Bagaimana tidak kecewa, karena jika dahulu di siang hari di bulan ramadhan, sedikit sekali tempat makan yang buka, mereka yang tidak berpuasapun, bla makan dan minum selalu dengan sembunyi-sembunyi menghormati atau mungkin malu dengan mereka yang berpuasa.

Tapi sekarang, ngabuburit ke sebuah pusat perbelanjaan, sekelompok wanita muslim yang mengenakan kerudung, tertawa tawa dengan lepas, sambil makan dan minum di food court yang tersedia. Di bagian lain, muslimah berhijab, mengenakan pakaian ketat mengikuti lekuk tubuh asyik berjalan, windows shoping sambil menyeruput sebuah minuman kemasan. Kaum prianya juga tidak kalah. Cuek saja merokok, makan dan minum.
Astagfirullahaladzim

Dan waktu dahulu apabila tiba saatnya berbuka, jalanan menjadi sepi, tepat ibadah (masjid, mushola penuh) mau berbuka di luar, tempat makan pada antri. Menjadikan diri ini malas makan di luar, lebih baik segera cepat pulang dan makan bersama dengan keluarga di rumah.
Tapi sekarang, pada saat jam buka, tidak terlihat kesibukan seperti dulu. Apa karena sudah banyak tempat makan ya, jadi tidak perlu antri lagi. Namun malam-malam yang dahulu ramai oleh ibadah, sholat tarawih, tadarus. Sekarang diramaikan dengan mereka yang sibuk hunting baju lebaran, belum lagi suara petasan disana sini. Ya mending kalo tarawih nya sudah beres. Lha ini orang masih shalat dan berdo’a, eh dar der dor ngak berhenti.
Astagfirullahaladzim

Lalu tayangan televisi yang semakin hari kian beragam stasiun televisi swasta beserta acaranya. Kok malah makin vulgar dan tidak berbobot agama. Katanya sinetron religi tapi ya begitulah. Ditambah tayangan yang menemani sahur yang dirasa penulis makin hancur, makin malas untuk menontonnya. Anehnya lagi, mereka-mereka yang seharusnya lebih kuat agamanya macam para ustad dan ustadah, ikut terlibat dalam tayangan yang tidak mencerminkan budaya muslim dan tidak sejalan dengan makna bulan ramadhan.  Tidak usah dijelaskan secara detail, penulis yakin pembaca sudah mengetahuinya. Atau sudah banyak dibahas di blog-blog yang lain.
Astagfirullahaladzim

Dan tidak lupa, lihat kondisi budaya dimana mereka lebih senang membelanjakan uang untuk baju dan makanan secara berlebihan. Saling membangga bangga kan keadaan financial diri dan keluarganya. Pamer kendaraan baru setiap Idul fitri. Tapi melupakan shalat dan zakat yang nota bene harus lebih dahulu dilaksanakan sebelum berpuasa (urutan dalam rukun islam). Tapi sombong dengan gelar haji yang disandangnya, berangkat umroh sampai 13 kali dsb
Astagfirullahaladzim

Apakah ini yang menandakan bahwa kiamat sudah dekat ? apakah ini bukti nyata kisah Nabi Sulaiman as yang bertanya pada iblis yang sedang tertawa terbahak-bahak, dan dijawab bahwa iblis tertawa karena berhasil melakukan 2 hal, yakni 1) membuat umat Nabi Isa as menyembah 2 tuhan. Dan 2) membuat umat Nabi Muhammad Rasullulah saw mendewakan harta dan kekayaan ? 

Hanya Allah SWT yang tahu jawabannya.
Namun pertanyaan-pertanyaan yang kiranya wajib kita ajukan kepada diri kita sendiri masing-masing :
Mau dibagaimanakan ramadhan kali ini oleh kita ?
Ramadhan kali ini Mau dijadikan pijakan ke neraka atau ke surga ?

Jawabannya, hanya anda dan Allah SWT yang tahu.

Semoga saja ramadhan kali ini semakin membuat kita semakin menyadari posisi kita sebagai Hamba-Nya. Membawa kita semakin dekat kepada-Nya…Amin YRA

Subhannallah walhamdulillah walla ilaha ilalah wallahuakbar
Wassalamualaikum wr wb.


No comments:

Post a Comment