Assalamualaikum,
Al-Qashash [28:60]
Dan apa saja yang diberikan kepada
kamu (kekayaan, jabatan, keturunan), maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi
dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih
kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?
Membaca terjemahan di atas mengingatkan penulis akan bulan Ramadhan 2012
kali ini. Yang mana secara pribadi dirasakan semakin kehilangan makna ramadhan
yang sesungguhnya.
Menurut sebuah tulisan blog :
RAMADHAN adalah sebuah kata yang terbentuk dari lima huruf,
dan setiap hurufnya memiliki makna tertentu yaitu : Ra : rahmat (rahmat Allah),
Mim : maghfirah (ampunan Allah), Dhod : Dhommanun li al jannah (jaminan untuk
menggapai surga), Alif : Amaanun min an nar (terhindar dari neraka) Nun :
Nurullahi al Azizi al Hakim al Ghofuuri ar Rahiim (cahaya dari Allah swt yang
maha kuasa dan bijaksana, maha pengampun dan pengasih). Saat kita telaah makna
yang terkandung dalam kata RAMADHAN tersebut kita akan semakin meyakini bahwa
datangnya bulan RAMADHAN adalah membawa sebuah keberkahan dari Allah SWT untuk
kita sebagai hamba-Nya. Hal ini sesuai sabda Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya
yang artinya : dari Abi Hurairoh RA, bahwasanya nabi Muhammad SAW berkata saat
Ramadhan telah tiba: telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, pada
bulan tersebut engkau diwajibkan berpuasa dan dibukalah pintu-pintu surga dan
ditutuplah pintu-pintu neraka dan syaitan-syaihan di belenggu, dalam bulan
tersebut ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa
yang tidak mampu mendapatkan kebaikan bulan RAMADHAN tersebut maka haramlah
baginya surga. Riwayat Ahmad, an Nasa’i, dan Baihaqi.
demikian sempalan dari tulisan
sebuah blog.
Yang kalau penulis sederhanakan
dengan mengambil sudut pandang umum menurut penulis sendiri, maka ramadhan itu
:
Kaitan dengan
Allah SWT, keren nya ketauhidan dari seorang hamba kepada penciptanya. Seperti juga
puasa itu termasuk ke dalam salah satu rukun islam, yaitu nomor 4. Ramadhan yang
merupakan bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, bulan istimewa, dimana kita
sebagai hambanya dapat lebih mendekatkan diri dan meningkatkan kualitas
keimanan kita dengan berbagai kegiatan keagamaan.
Lalu kaitan
dengan sesama manusia, ramadhan yang didalamnya terdapat perintah untuk
melaksanakan ibadah puasa bagi yang tidak mempunyai halangan berpuasa. Terkandung
nilai-nilai moral, bahwa kita harus ikut merasakan bagaimana kondisi kaum fakir
dan miskin yang kerap kali harus menahan lapar dan haus. Lalu diajarkan pula
nilai kebersamaan dan toleransi, baik sesama umat islam / muslim maupun dengan
umat agama lainnya. Kesederhanaan dalam berbuka dan berpakaian, saling sapa dan
salam, dan apabila memang berhalangan dalam berpuasa, tidak menunjukannya di
depan umum. Dsb.
Setidaknya hal-hal
itulah yang dahulu diajarkan dan dialami oleh penulis. Akan tetapi seiring
dengan waktu yang bergulir, ramadhan semakin kini semakin berubah pemaknaannya
bagi kebanyakan kaum muslim.
Seperti juga
di tulisan dalam sebuah blog :
“Menyoal
Makna Ramadhan”
di dalam blog tersebut
diceritakan bahwa makna ramadhan terbagi menjadi 3 bagian :
“Ramadhan religius”, “Ramadhan ekonomi”
dan yang terakhir “Ramadhan hiburan”.
Penulis setuju dengan apa yang
disampaikan di dalam tulisan blog tersebut. Dan merasa miris karena dari
pengamatan sehari-hari di bulan ramadhan kali ini, ramadhan ekonomi dan
ramadhan hiburan yang lebih dominan dari pada ramadhan religious.
Bagaimana tidak kecewa, karena jika
dahulu di siang hari di bulan ramadhan, sedikit sekali tempat makan yang buka,
mereka yang tidak berpuasapun, bla makan dan minum selalu dengan
sembunyi-sembunyi menghormati atau mungkin malu dengan mereka yang berpuasa.
Tapi sekarang, ngabuburit ke sebuah
pusat perbelanjaan, sekelompok wanita muslim yang mengenakan kerudung, tertawa
tawa dengan lepas, sambil makan dan minum di food court yang tersedia. Di bagian
lain, muslimah berhijab, mengenakan pakaian ketat mengikuti lekuk tubuh asyik
berjalan, windows shoping sambil menyeruput sebuah minuman kemasan. Kaum prianya
juga tidak kalah. Cuek saja merokok, makan dan minum.
Astagfirullahaladzim
Dan waktu dahulu apabila tiba saatnya berbuka,
jalanan menjadi sepi, tepat ibadah (masjid, mushola penuh) mau berbuka di luar,
tempat makan pada antri. Menjadikan diri ini malas makan di luar, lebih baik
segera cepat pulang dan makan bersama dengan keluarga di rumah.
Tapi sekarang, pada saat jam buka, tidak
terlihat kesibukan seperti dulu. Apa karena sudah banyak tempat makan ya, jadi
tidak perlu antri lagi. Namun malam-malam yang dahulu ramai oleh ibadah, sholat
tarawih, tadarus. Sekarang diramaikan dengan mereka yang sibuk hunting baju
lebaran, belum lagi suara petasan disana sini. Ya mending kalo tarawih nya
sudah beres. Lha ini orang masih shalat dan berdo’a, eh dar der dor ngak
berhenti.
Astagfirullahaladzim
Lalu tayangan televisi yang
semakin hari kian beragam stasiun televisi swasta beserta acaranya. Kok malah
makin vulgar dan tidak berbobot agama. Katanya sinetron religi tapi ya
begitulah. Ditambah tayangan yang menemani sahur yang dirasa penulis makin
hancur, makin malas untuk menontonnya. Anehnya lagi, mereka-mereka yang
seharusnya lebih kuat agamanya macam para ustad dan ustadah, ikut terlibat
dalam tayangan yang tidak mencerminkan budaya muslim dan tidak sejalan dengan
makna bulan ramadhan. Tidak usah
dijelaskan secara detail, penulis yakin pembaca sudah mengetahuinya. Atau sudah
banyak dibahas di blog-blog yang lain.
Astagfirullahaladzim
Dan tidak lupa, lihat kondisi budaya
dimana mereka lebih senang membelanjakan uang untuk baju dan makanan secara
berlebihan. Saling membangga bangga kan keadaan financial diri dan keluarganya.
Pamer kendaraan baru setiap Idul fitri. Tapi melupakan shalat dan zakat yang
nota bene harus lebih dahulu dilaksanakan sebelum berpuasa (urutan dalam rukun
islam). Tapi sombong dengan gelar haji yang disandangnya, berangkat umroh
sampai 13 kali dsb
Astagfirullahaladzim
Apakah ini yang menandakan bahwa
kiamat sudah dekat ? apakah ini bukti nyata kisah Nabi Sulaiman as yang
bertanya pada iblis yang sedang tertawa terbahak-bahak, dan dijawab bahwa iblis
tertawa karena berhasil melakukan 2 hal, yakni 1) membuat umat Nabi Isa as
menyembah 2 tuhan. Dan 2) membuat umat Nabi Muhammad Rasullulah saw mendewakan
harta dan kekayaan ?
Hanya Allah SWT yang tahu
jawabannya.
Namun pertanyaan-pertanyaan yang kiranya
wajib kita ajukan kepada diri kita sendiri masing-masing :
Mau dibagaimanakan ramadhan kali
ini oleh kita ?
Ramadhan kali ini Mau dijadikan
pijakan ke neraka atau ke surga ?
Jawabannya, hanya anda dan Allah
SWT yang tahu.
Semoga saja ramadhan kali ini
semakin membuat kita semakin menyadari posisi kita sebagai Hamba-Nya. Membawa kita
semakin dekat kepada-Nya…Amin YRA
Subhannallah walhamdulillah walla
ilaha ilalah wallahuakbar
Wassalamualaikum wr wb.
No comments:
Post a Comment